Rabu, 09 Februari 2011

A divorce

Divorce - Perceraian

Saya sudah lama mengenal istilah “divorce” atau perceraian sejak kecil. Kedua orang tua saya yang pernah mengalaminya. Sepanjang perjalanan hidup saya, saya terus bertanya mengapa perpisahan harus terjadi pada suatu ikatan suci pernikahan, atau…dalam suatu keluarga bahagia. Sepanjang perjalanan hidup saya, saya terus mencari jawabannya.

Ketika beranjak dewasa, saya mulai mengerti. Nampaknya istilah “divorce” itu memang hanya berlaku bagi orang dewasa. Saya menyebutnya sebagai bagian dari “masalah orang dewasa”.

Mengapa saya sebut demikian? Karna istilah itu tidak ada dalam kehidupan seorang anak kecil. Mereka tidak pernah kenal istilah “divorce”. Meskipun saya mengetahui istilah “divorce” sejak saya menjadi anak kecil, tapi saya toh tidak serta-merta mengalaminya sendiri. Yah, tentunya saya mengalami dampak buruk dari “divorce” itu sendiri. Tapi saya tidak pernah mengalami “divorce” dengan teman-teman semasa kecil saya, tidak pernah mengalami “divorce” dengan saudara saya, dan tentu tidak mengalami “divorce” dengan kedua orang tua saya. Anak kecil hanya hidup dengan segala imajinasi dan mimpi-mimpinya. Dan anak kecil hanya dapat menangis ketika menemui konflik dalam hidupnya.

Tak seperti orang dewasa, ketika mengalami konflik dalam suatu hubungan, “divorce” adalah istilah yang sangat dekat dengan mereka. Dan kini, ketika saya sudah bukan lagi anak kecil, dan juga belum merasa menjadi orang dewasa, saya mengalami “divorce” itu sendiri. Ternyata “divorce” tak hanya dialami oleh sepasang suami-isteri dalam suatu ikatan pernikahan. Tidak! Banyak sekali “divorce” dalam kehidupan orang dewasa.

Dalam persahabatan. Saya “merasa” memiliki banyak sahabat. Sahabat yang memberi saya kasih sayang. Tapi ternyata, saya sadar bahwa tak semua yang saya anggap sahabat baik saya itu benar-benar merupakan sahabat baik saya. Sahabat yang baik adalah sahabat yang selalu “ada” untuk kita bahkan di saat kita tidak membutuhkannya sekalipun. Namun yang sering terjadi dalam hidup saya adalah: sahabat saya datang “hanya” ketika mereka butuh saya dan saya selalu “ada” untuk mereka kapanpun mereka butuh saya. Kemudian saya sadar, ternyata selama ini saya hanya “menganggap” dan “mengharap” mereka adalah sahabat baik saya, dan mereka tidak “menganggap” dan “mengharap” saya sebagai sahabat baik mereka. Dengan sendirinya, waktu akan membuktikan itu semua dan dengan sendirinya pula, tanpa disadari, “divorce” dalam ikatan tali persahabatan pun ada. Dulu saya berpikir, persahabatan itu abadi, tak mungkin ada istilah “divorce” seperti yang pernah dialami kedua orang tua saya. Tapi seperti yang saya ungkap tadi, “divorce” memang satu bagian dari “masalah orang dewasa”.

Dalam percintaan. Saya rasa saya tak perlu menjabarkan dengan panjang mengenai poin ini, karna sejak kita beranjak remaja, semua merasakannya. Ketika dua insan saling mencintai, “divorce” juga sangat dekat. Saya selalu ingat satu kalimat ini : “orang yang sangat kita cintai berada dalam posisi yang sangat tepat untuk menyakiti hati kita.” Tapi saat ini, bukan hanya itu yang saya yakini. Saya yakin, kuantitas tak menjamin kualitas. Itu yang benar-benar baru saja saya alami. 1 tahun…2 tahun…3 tahun…berapa tahun pun, tak menjamin suatu hubungan percintaan kita berkualitas. Namun saya tak pernah menyesalinya. Tak pernah merasa sia-sia dengan kuantitas itu. Karena dari kuantitas yang sekian itulah saya bisa benar-benar tahu, bahwa hubungan saya dengan “dia” memang tak berkualitas. Mungkin tanpa kuantitas yang sekian itu, saya tidak akan bisa menilai kualitas dari hubungan itu sendiri.

Friendship divorce….relationship divorce...or whatever it called….merupakan suatu yang menyakitkan tapi bukan akhir dari segalanya. Bahkan bisa merupakan langkah yang terbaik.

Saya sadar, kedua orang tua saya bisa menjalin hubungan dengan lebih baik lagi tanpa dalam suatu ikatan pernikahan. Untuk apa mempertahankan pernikahan bila dua kepala tak bisa disatukan? Untuk apa mempertahankan pernikahan bila memperburuk kondisi keluarga itu sendiri? Mungkin dengan berpisah, mereka bisa lebih rukun tanpa memperburuk keadaan. Dan yang lebih penting, dengan perpisahan itu, mereka bisa saling menghargai, paling tidak sebagai sesama insan Tuhan, bukan sebagai sepasang suami-isteri.

Begitu pula dalam kehidupan persahabatan dan percintaan. Terkadang, “divorce” merupakan jalan terbaik. Bila “bersama-sama” justru menyebabkan pertikaian, mengapa tidak mencoba “menjaga jarak” dan saling menjaga kerukunan? Saya yakin, tak masalah kita tidak bersahabat dengan si A, atau putus dengan si X, selama semua itu tetap indah dan damai.

Dan lucunya, tanpa kita sadari, sejak kecil pun kita diajarkan oleh orang tua kita cara mengatasi masalah ketika kita terlibat pertikaian hebat. Misalnya, di saat kita berkelahi dengan kakak atau adik kita, dengan sigap sang ibu merelai kita. Simple. Hal itu untuk mencegah perpecahan yang lebih rumit. Ketika kita dewasa, “divorce” adalah perwujudan untuk tujuan hal simple yang telah kita tau sejak kecil itu tadi. Meskipun, “divorce” tentu bukan hal simple bagi orang yang mengalaminya.

Saya tau, Tuhan sangat membenci istilah “divorce” ini. Tapi tentu Tuhan lebih membenci lagi bila kita terus menciptakan pertikaian kan? Memang benar, kita hanyalah milikNya, dan hanya sementara di dunia ini. Namun bukan berarti kita pun tidak bisa memaknai sendiri hidup kita ini dan berusaha mendapatkan hidup yang lebih baik untuk kita. Mendapatkan kebahagiaan dalam hidup adalah manusiawi. Salah atau benar dari “divorce” itu sendiri, pasti memberikan makna tersendiri untuk yang mengalaminya. Dan yang memilih jalan “divorce” inipun pasti meyakini hanya itu jalan terbaik untuknya untuk menuju kebahagiaan.

Bagi yang pro dan kontra tentang tulisan saya ini…saya harap tetap bisa memandangnya dengan “kedewasaan”, karena seperti yang saya bilang di awal, “divorce” merupakan bagian dari “masalah orang dewasa”…^_^v…



Let’s live this life peacefully….by whatever n however we live this life…

0 komentar: